Trenggalek – Pandemi covid 19 yang berlangsung sejak tahun 2019 sampai sekarang tidak sepenuhnya membawa musibah, namun juga menjadi berkah bagi pengrajin anyaman di desa Jajar, Gandusari, Kabupaten Trenggalek.  Hal itu salah satunya dialami oleh pengrajin berbagai kerajinan dari anyaman Sumardji, 65 tahun warga desa Jajar, Gandusari, Kabupaten Trenggalek.  
Sumardji – Sapaan akrab pria paru baya ini, menjelaskan usaha yang sudah di rintis dari tahun 2013 ini mulai menyentuh pasar dunia ditahun 2018 di beberapa Negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Dan setelahnya 2019 mengalami peningkatan produksi yang cukup signifikan

Kerajinan anyaman produksi Sumardji dipatok dengan harga yang bervariatif. Mulai dari harga termurah yakni Rp 10 ribu. Menurutnya harga tergantung dari besar kecil ukuran dan model. ”Untuk satu tas kecil dipatok harga mulai Rp 10 ribu dan tas besar Rp 30 ribu, tikar Rp 20 Ribu dan tampat sampah Rp 25 Ribu dan kerajinan anyaman ini sudah ada logonya sendiri atau juga tidak berlogo,” Ujar Sumardji.

Dalam proses produksi Sumardji merekrut satu karyawan untuk membantunya. Hal ini karena adanya kelonjakan pesananan yang selalu bertambah. Selain membantu dalam proses produksi, karyawan beliau juga membantu dalam proses pemasaran melalui media sosial.

“Saya memiliki satu karyawan, dulu saya pernah mengirim tas sampai ke luar negeri, dan dipasarkan oleh karyawan saya lewat sosial media.” Ujar Sumardji kepada mahasiswa KKN membangun Desa Berkelanjutan dari UIN SATU Tulungagung.  

Selain itu, Sumardji  juga tetap menitipkan tas buatanya dipasar atau reseller sebagai bentuk menjaga hubungan dengan penjual sesuai dengan pesanan yang diminta.

Proses pengerjaan kerajinan anyaman kurang lebih menghabiskan waktu hingga dua hari, tergantung dari tingkat kesulitan yang ada.  Kerajinan anyaman dibuat ketika ada pesanan, ini dikarenakan permintaan pasar tidak semuanya sama. Dan pertimbangan bahan baku menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan. “Saya sudah ada langganan dipasar atau pedagang lainnya. Jadi saya hampir setiap hari mengerjakan pesanan dan tidak menyediakan stok,” Ujar Sumardji.

Salah satu kerajinan anyaman karya Sumardji yang mendominasi adalah tas anyaman. Menurut penuturnya, dalam dua bulan ia rata-rata bisa menghasilkan 600 pesanan tas dengan berbagai model untuk pasar lokal, nasional bahkan mancanegara. Menurutnya, tren saat ini tas anyaman tidak hanya untuk sekedar dipakai belanja. Melainkan juga bisa dipakai sebagai souvenir pernikahan dan lain sebagainya. Sehingga membuat permintaan melejit terutama ketika musim hajatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
LP2M UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG

LP2M UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG

Saturday, May 28, 2022