Tradisi Jamasan di masyarakat Trenggalek. (Foto: Dokumen)

KKN MDB 2022 – Minggu, 27 Maret 2022, dalam rangkaian acara megengan show, masyarakat Jajar mengadakan tradisi jamasan yang dilakukan di jeding wonotirto. Jamasan ini diikuti oleh 9 orang ibu-ibu sepuh serta dipandu oleh Suwito selaku pegiat seni dan budaya tradisional.

Jamasan ini merupakan tradisi membasuh/bersuci dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan. Peserta jamasan membawa air yang berisi merang—bekas tangkai padi yang sudah kering—yang sudah dibakar dan menjadi abu dengan diwadahi kendil, kemudian diberi air sebanyak ¾ dari ukuran kendil.

Proses Tradisi Jamasan. (Foto: Dokumen)

Selanjutnya, para peserta jamasan berbaris untuk menuju Jeding Wonotirto. Sesampainya di Jeding, para penjamas duduk di depan jeding sambil menengadahkan tangan dan memanjatkan doa-doa. Kemudian setelah berdoa, ritual jamasan dilakukan.

Jamasan dilakukan dengan mengalirkan air campuran merang ke rambut yang digunakan untuk keramas. Kemudian dilanjutkan dengan mengalirkan air ke seluruh tubuh layaknya mandi dengan memanjatkan sholawat. Setelah ritual jamasan selesai, para penjamas keluar dari jeding wonotirto dengan tetap memanjatkan sholawat.

Jamilatun, warga Desa jajar menceritakan bahwasannya tradisi jamasan sudah ia kenal sejak kecil dari orang tua dan kakek-neneknya hingga sampai saat ini. Menjelang bulan Ramadhan Jamilatun melaksanakan tradisi Jamasan yang masih dilestaraikan hingga saat ini.

Kulo mengenal tradisi Jamasan menika awit cilik, sing ngenalne nggeh sesepuh, yen pas wayahe arep pasa ken adus jamasan resik-resik awak ben suci lan panggonane nang sumber.[Saya mengenal tradisi Jamasan ini sejak kecil, yang mengenalkan adalah mbah, ketika pas waktunya puasa suruh untuk mandi jamasan bersih-bersih badan dan tempatnya di sumber mata air],” ucap Jamilatun.

Adus Jamasan niku damel merang, ingkang tasih alami damel keramas, terus jamasan niki nggeh sebagai bentuk nyambung tradisi jaman riyan sing nyambut arep pasa.[Mandi jamasan ini menggunakan merang yang masih alami untuk keramas dan jamasan ini sebagai bentuk menyambung tradisi zaman dulu yang menyambut datangnya ramadhan], “ Jelas Jamilatun.

Tradisi Jamasan yang masih kental hingga saat ini mendapatkan apresiasi dari  bapak kepala desa Jajar. Pasalnya, tradisi ini sudah jarang dilakukan dan banyak yang tidak mengetahui. Oleh sebab itu, dilaksanakannya kegiatan ini, bertujuan untuk memperkenalkan pada masyarakat terutama anak-anak sejak usia dini serta melestarikan budaya yang ada dan mulai luntur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
LP2M UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG

LP2M UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG

Saturday, May 28, 2022