Ini menjadi pengalaman berharga untuk saya. Pergi ke pulau yang sangat jauh, yakni di Kupang Nusa Tenggara Timur. Keberadaan saya di sana karena lolos sebagai peserta KKN Nusantara 3T mewakili IAIN Tulungagung.

Hadirnya progam KKN Nusantara 3T yang mengangkat tema peace building (moderasi beragama) ini menjadikan sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Lokasi yang dipilih adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur yakni tepatnya di Kecamatan Sulamu yang ditempatkan di tujuh desa.

Saya menjadi bagian anggota dari kelompok tujuh yang menjadi kelompok terakhir ditempatkan di Desa Bipolo. Saya di kelompok tujuh Desa Bipolo menemukan banyak ibrah dak hikmah yang sungguh sangat luar biasa terkait tentang moderasi beragama. Dulu saya berangan-angan untuk bisa belajar tentang agama lain, dan atas kehendak Allah dengan mengikuti KKN Nusantara 3T ini banyak mendapatkan pengetahuan tentang agama Kristiani.

Menurut survey 81.1 skor indeks KUB (Kerukunan Umat Beragama) diatas rata-rata nasional versi Kemenag 2019 mendedikasikan NTT menjadi peringkat kedua sebagai wilayah yang menjunjung tinggi akan toleransi setelah Papua Barat, hingga ada sebutan kepanjangan dari NTT yaitu Nusa Terindah Toleransi.

Kami berdelapan telah menemukan bukti bahwa memang hal tersebut benar adanya. Kami yang berasal dari berbagai perguruan tinggi yang beragama Islam dengan memiliki latar belakang bermacam-macam faktanya bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Desa Bipolo yang mayoritas beragam Kristen Protestan.

Dalam catatan kependudukan hanya ada tiga kartu keluarga yang beragama Islam. Kami tinggal di rumah Kepala Dusun II, Marthen L. Abani yang menjadi Oppa kami selama sebulan ini sekaligus bisa dikatakan sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kelompok kami.

Meskipun notabenenya Oppa adalah beragam Kristen, namun kami diperlakukan layaknya anak kandung sendiri yang sangat menghargai kegiatan ibadah keseharian kami sebagai umat Islam. Kami merasa hidup dalam lingkungan yang bersaudara tanpa sekat agama.

Kami peserta KKN Nusantara hadir untuk mengajak kepada masyarakat membangun kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa yang sesuai dengan kemampuan serta potensi yang dimiliki masyarakat itu sendiri.

Dengan menggunakan metode Asset Based Community Development (ABCD), kami berusaha memberdayakan masyarakat Desa Bipolo yang memfokuskan pada aspek potensi dan ekonomi. Secara umum di Kecamatan Sulamu potensi terbesar yang dimiliki adalah bertani dan beternak, namun di Desa Bipolo ada potensi yang tidak dimiliki oleh desa-desa lain yaitu home industry kerajinan tenun yang sudah menjadi tradisi turun-temurun dari terdahulu.

Penentuan asset mana yang perlu diberdayakan yang sesuai dengan potensi masyarakat maka kami melakukan Focus Groub Discussion (FGD) bersama pemerintah desa dan masyarakat. Dari FGD tersebut dapat disimpulkan bahwa tenun merupakan aset terbesar di Bipolo namun keterbatasan akses pemasaran yang menjadikan tenun Bipolo tidak bisa tumbuh secara pesat.

Karena problema yang dihadapi tersebut sehingga kurang berkembangnya potensi yang seharusnya mampu membangun kesejahteraan bagi masyarakat Desa Bipolo. Dalam hal ini kami selaku fasilitator yang dibekali dengan keilmuan berbagai bidang mencoba menghadirkan jasa ekspedisi di Desa Bipolo dengan JNE sebagai mitra kami.

Dengan mengadakan satu kegiatan yang kami rencanakan dengan waktu yang begitu singkat yaitu Festival Semarak Budaya Bipolo dengan mengangkat produk tenun sebagai icon-nya.

Harapan kami dengan kegiatan ini menjadi sebagai upaya penyadaran masyarakat akan penggunaan teknologi melalui pemerintah desa dan dapat memperluas pangsa pasar sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dalam kegiatan ini kami juga turut mengundang seluruh kepala desa di kecamatan Sulamu dan mahasiswa KKN di desa lain dengan memberikan ruang kepada mereka untuk mempromosikan asset yang dimiliki desa pengabdian mereka.

Sayangnya karena durasi waktu yang sangat terbatas, sehingga dalam proses mendampingi masyarakat untuk mengembangkan potensinya belum begitu maksimal, kami pun harus berpisah.

Namun yang sangat memberikan kesan bangga bagi kami, tanggal 1 Februari dicetuskan sebagai Hari Tenun Bipolo oleh kepala desa yang nantinya festival ini akan berlanjut di setiap tahunnya.

Dan dihari terakhir pengabdian kami mendapat kabar gembira bahwa pihak JNE benar membuka cabang di Bipolo untuk membantu mendistribusikan home industry di Desa Bipolo utamanya hasil kerajinan tenun.

Beberapa upaya dan strategi serta seluruh kegiatan kami selama proses pemberdayaan dalam pengabdian masyarakat selama sebulan ini bisa dilihat di akun youtube kami “kkn3tdesabipolo” dan akun instagram “@kkn3tdesabipolo” sebagai sorotan media popular kami.

Begitu berat kami untuk berpisah dengan keluarga besar masyarakat Desa Bipolo. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Bergetar hati ketika melihat linangan air mata mengiringi langkah kami ketika meninggalkan mereka untuk berpisah, banyak doa dan harapan besar menyertai kami.

Harapan besar meraka bahwa kedepannya mahasiswa KKN Nusantara bisa hadir kembali dengan waktu yang lebih lama menjadi fasilitator yang mendampingi di setiap langkah mereka untuk mencapai kesejahteraan.

Saya berharap dengan adanya progam KKN Nusantara 3T ini bisa menjadi acuan ke depannya dalam menjalankan tugas mulia yang sejatinya harus dilakukan oleh para mahasiswa yaitu mengabdi untuk masyarakat.

Bukan menjadi mahasiswa yang menyombongkan diri karena kepandaiannya tetapi menjadi fasilitator yang mampu mengajak masyarakat membangun kesejahteraan hidup dalam keadilan dan kemakmuran yang diberkahi dan diridhoi oleh Allah SWT dengan kerendahan hatinya. (Shofi Nailatul Muyassaroh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
LP2M

IAIN Tulungagung

Saturday, Oct 24, 2020