Tumpakkepuh– Kamis, 09 Januari 2020 – Tepat pukul 17.30 WIB peserta KKN Tumpakkepuh posko 2 telah sampai di lokasi dan langsung menyiapkan tempat untuk beristirahat. Dusun Kepuh dikenal sebagai dusun yang memiliki masyarakat ramah dan gotong royong. Hal ini terbukti dengan penyambutan jamaah mushola yang berada di dekat posko 2 kepada peserta yang berjamaah di sana. Mereka langsung membagikan cerita, saling bertanya sekaligus memberikan motivasi kepada peserta KKN agar lebih semangat.

Tak kenal maka tak tresnani (dicintai) adalah istilah peserta KKN Tumpakkepuh posko 2 kepada masyakrakat Dusun Kepuh. Hal ini disebabkan karena istilah srawung benar-benar diterapkan oleh seluruh peserta KKN sehingga masyarakat segera membaur dan akrab. Bantuan demi bantuan diberikan, seperti telur ayam, sayuran mentah, kelapa tua, kelapa muda, makanan ringan, kayu bakar, dan masih banyak lagi. Seorang sesepuh terpandang di Dusun Kepuh telah merasakan kehangatan sejak peserta KKN posko 2 memasuki hari pertama. Sesepuh tersebut bernama Mbah Kusni. Awal hari, Mbah Kusni telah lebih dahulu bersilaturahim ke posko 2. Beliau juga yang mengarahkan masyarakat Dusun Kepuh untuk membersihkan posko sebelum rumah yang sudah lama kosong tersebut layak digunakan untuk 34 hari ke depan.

Aku lek mbok tinggal kudu piye to, Nduk,” (Aku kalau kalian tinggal harus bagaimana, Nak?) tutur Mbah Kusni. Kalimat ini membuat haru seluruh peserta KKN, seakan tidak rela untuk ditinggal pulang ketika kegiatan KKN ini telah usai.

Selain Mbah Kusni, terdapat sesepuh terhormat lagi yang merupakan salah satu tokoh babat Pantai Pangi, yakni Mbah Trimo. Mbah Trimo adalah sosok yang mengarahkan peserta KKN untuk menempati rumah kosong yang berada di dekat rumahnya. Keunggulan dari posko 2 selain masyarakat yang ramah adalah terdapat dua tokoh penting Desa Tumpakkepuh yang senantiasa memberikan pengarahan.

Saling mengenal dan saling mencintai, itulah kesan yang didapatkan. Pada sebelah ujung Barat Dusun Kepuh, Tepatnya berjarak 3 rumah dari posko terdapat rumah Mbah Wonten dan sebelah selatannya rumah Mbah Kat. Mbah Wonten adalah sosok yang selalu menyumbangkan sayuran bahkan ikan laut untuk dimasak oleh peserta KKN, bahkan Mbah Wonten terjun langsung memberikan sumbangsih keahliannya untuk membuatkan bumbu ikan goreng kepada peserta KKN. Mbah Wonten juga rajin menghafal nama-nama peserta KKN sampai hafal semua peserta putrinya yang berjumlah 14 anak. Bahkan juga mengenal peserta laki-laki yang kerap kali menjadi mu’adzin dan imam di mushola menggantikan imam yang sebelumnya.

Selain Mbah Wonten, ada juga Mbah Kat yang selalu menyuruh peserta KKN untuk mengunjungi rumahnya. Beliau bersedia memberikan makanan kepada peserta KKN dan pengalaman. Bahkan bercerita mengenai KKN yang pernah dilakukan di Desa Tumpakkepuh yang sedikit berbeda dengan KKN tahun ini. Mbah Wonten maupun Mbah Kat berpendapat bahwa peserta KKN tahun ini lebih tata krama. Bahasa Jawa yang digunakan ada tingkatan-tingkatan bahasa. Peserta KKN tahun ini lebih lincah dan mahir menggunakan bahasa Jawa tingkat kromo kepada masyarakat sekitar, itulah nilai plus yang mereka lihat.

Setelah Mbah Wonten dan Mbah Kat, disusul juga Bu Rum, Bu Tum, Bu Har, Mbah Mur, dan masyarakat sekitar lainnya. Mereka berbondong-bondong membantu peserta KKN dalam menjalankan keseharian di Dusun Kepuh.

“Meskipun peserta KKN diberikan uang saku oleh orang tuanya, akan tetapi mereka dituntut untuk hemat, harus hidup ngrekoso (susah),” ucap Mbah Kusni ketika sebagian peserta KKN bertamu ke rumah beliau. Mbah Kusni memberikan pengarahan kepada warga Dusun Kepuh untuk senantiasa membantu peserta KKN, karena mereka adalah anak-anak yang perlu bimbingan dan juga bantuan. Program KKN ini diharapkan bisa memberikan imbal balik yang sesuai dengan yang diharapkan khalayak umum.

Oleh: Ani Hidayatul Munawaroh, Tumpakkepuh 2

Editor: Anis Sintawati, Tumpakkepuh 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
LP2M

IAIN Tulungagung

Saturday, Oct 23, 2021