Selepas salat maghrib kami melakukan silaturahmi ke rumah kepala Karang Werda. Kebetulan rumah beliau berada di wilayah kami, tepatnya di Suruh bagian tengah RT 18. Bersandingan dengan SMP Negeri 1 Suruh. Jika dari SMP masih ke Selatan sekitar seratus meter rumah pojokan depan masjid.

Jam menunjukkan pukul 18:30, tepat dimana kawan-kawan dari posko Suruh 1 datang ke posko Suruh 2. Jumlah mereka ada 9 orang. Sangat antusias sekali dan saya mengapresiasi keingintahuan mereka akan cerita bermulanya desa Suruh. Selang lima belas menit dari waktu kumpul, kami berangkat menuju kediaman Pak Suparni.

Sampai di sana kami melaksanakan sholat isya’ berjamaah di masjid dan Pak Suparni yang menjadi imamnya. Usai sholat isya berjamaah kami dipersilahkan masuk ke rumah beliau. Kordinator Desa kami mengawali pembicaraan dengan niat silaturahmi yang kemudian disusul penggalian informasi mengenai babat Desa Suruh.

Pak Suparni adalah pensiunan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat kami temui usianya sudah menginjak kepala tujuh. Namun, beliau masih sering menghadiri berbagai acara dan aktif di banyak organisasi. Seperti yang kami ketahui, selain menjadi ketua Karang Werda pihaknya juga menjadi ketua paguyupan Karawitan yang pesertanya hampir keseluruhan adalah lansia.

Di rumahnya juga terpampang banyak kalender dari majalah Jaya Baya. Semangat organisasi dan literasi beliau sungguh luar biasa. Sudah banyak tulisan-tulisan dari puisi jawa, berita acara seperti saat Grebeg Selo (sebuah acara dimana mengingat para leluhur desa di bulan Selo dengan cara bersih desa, arak-arakan dari SMP ke Kantor Desa, biasanya dihadiri juga oleh Bupati Trenggalek), bahkan buku paket tahun delapan puluhan, Wulang Reh yang isinya berbagai ragam cara penulisan sajak Bahasa Jawa masih ada dan dirawat oleh beliau. Kalau boleh dikatakan buku tersebut usianya lebih tua dari usia kami mahasiswa KKN yang sowan ke rumahnya.

Asal usul Desa Suruh menurut Pak Suparni ada dua versi. Yang pertama dahulu kala banyak pohon Suruh yang tumbuh di desa ini. Sehingga dinamakan Desa Suruh. Kalau belum tahu pohon Suruh silakan mencari informasi tersebut di buku atau internet untuk menambah wawasan pembaca.

Versi kedua, berhubungan erat dengan babad Pacitan, dimana Raden Ngabei Prawiranata seorang Patih Punakarya Ngawi yang memulai mengukir sejarahnya. Hal tersebut bermula dengan pecahnya perang antara Majapahit dan Demak di tahun Jawa brahmana tiga suci budi. Brahmana artinya delapan, tiga tetap tiga, suci berarti empat dan budi adalah satu. Angka tersebut dibaca dari belakang, jadi di tahun 1438 Majapahit kalah oleh Demak.

Ki Ageng Cakrajaya atau biasa dikenal dengan Ki Geseng, seorang ulama dari Demak datang ke Ponorogo mulai membuka wana (hutan). Sebelum membuka wana di sana ia menancapkan sebuah bambu Petung lalu semakin lama bambu tersebut bertriwikrama (beralih rupa) menjadi sebuah Barongan Deling. Sehingga Ki Ageng Cakrajaya juga dijuluki Ki Ageng Petung dan menurut berbagai cerita Ki Ageng ini putra dari murid Sunan Kalijaga.

Ki Geseng membuka wana yang dinamai Dukuhan Ngrejoso dan tidak lama kemudian datanglah Bathara Kathong dengan teman seperjuanganya yang bernama Maghribi Maulana yang juga membuka wana tidak jauh dari dukuh Ngrejoso. Kurang lebih 5 pal (7,5 km) dari Ponorogo.

Selanjutnya datang dua orang dari Demak yang bernama Ampak Baya dan Minak Sopal. Dalam hal ini yang menjadi sorotan adalah Minak Sopal yang menjadi adipati Trenggalek. Banyak prajurit Majapahit yang berlari untuk menyelamatkan diri. Salah satunya Panoyo dan beberapa teman lainya yang berlari menuju wana yang berada di pinggir samudera arah Utara.

Panoyo dikenal sebagai pribadi yang sakti mandraguna. Karena kesaktianya tersebut ia dijuluki Mbah Budho yang hidup di Nggedong (Gegeduking Poro Sakti). Mbah Budho sering dimintai tolong (disuruh) warga sekitar untuk membasmi angkara murka di daerahnya sendiri dan di dukuh lainya. Karena sering dimintai tolong Mbah Budho lebih dikenal dengan orang suruhan.

Adanya Mbah Budho di daerah tersebut menjadi pertanda bahwa bumi yang diinjak atau dihuni oleh masyarakat tersebut dinamakan Desa Suruh. Mbah Budho telah meninggal dunia dan dimakamkan di Nggedong yang berada di Dusun Krajan Desa Suruh.

Cerita dari Pak Suparni tersebut masih rancu. Banyak informasi yang belum kami ketahui. Usai menceritakan sejarah singkat Desa Suruh pembahasan beralih ke banyak hal. Seperti tembang-tembang jawa, ragam bahasa yang sering digunakan Pak Suparni dalam menulis sajak dan cerita semasa beliau masih mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi STKIP Trengalek.

Sepulang dari rumah beliau, kawan-kawan masih mendiskusikan hasilnya di posko. Tentang rentang waktu antara perang Majapahit dan Demak hingga tempat-tempat persinggahan yang masih menjadi misteri bagi kami. Selain itu, beliau akan sangat terbuka kepada semua kawan KKN yang ingin menggali informasi kepadanya atau sekedar bersilaturahmi. Beliau juga memberikan informasi beberapa orang yang bisa menjadi sumber penelitian kami. Ada empat orang yang tersebar di berbagai penjuru Desa Suruh. Dan insyaAllah kesemuanya akan kami datangi satu-persatu untuk menambah wawasan kami.

Berbicara tentang Sejarah saya jadi ingat dengan Muhammad Yamin. Dalam perkataanya dia mengemukakan bahwa cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa kita sendiri. Semoga generasi milenial ini dan generasi penerus selalu memerhatikan akan Sejarah bangsa sendiri, hingga akhirnya tidak ditindas bangsa asing di negeri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Close
LP2M UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG

LP2M UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG

Saturday, Sep 24, 2022