PENJOR, PAGERWOJO – Kasus kekurangan gizi kerap kali terjadi di masyarakat. Kasus ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal anak lahir, namun stunting baru nampak setelah anak berusia dua tahun.

Stunting itu sebuah kondisi tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya. Upaya penanggulangan prevalensi balita pendek (stunting) menjadi salah satu prioritas utama pembangunan nasional yang tercantum dalam sasaran pokok rencana pembangunan jangka menengah.

Edukasi terhadap masyarakat digalakkan oleh salah satu desa di Kecamatan Pagerwojo, Senin (05/08/2019). Yakni di Desa Penjor Pondok Bersalin Desa (Polindes) Penjor menggandeng Mahasiswa KKN IAIN Tulungagung menggelar sosialisasi pencegahan stunting.

Acara tersebut dilakukan bersamaan dengan kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Dihadiri oleh bidan dan anggota Polindes, mahasiswa KKN IAIN Tulungagung, serta warga Desa Penjor. Rangkaian acara dilakukan pukul 08.00 WIB di Balai Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo.

Acara dimulai dengan pemeriksaan balita, seperti pengukuran berat badan, tinggi badan, pengukuran lingkar kepala, pemberian makanan tambahan (PMT), pemberian vitamin, dan obat pencegah terjadinya cacingan. Dilanjutkan acara sosialisasi pencegahan stunting yang disampaikan oleh mahasiswa KKN IAIN Tulungagung.

Menurut Yulya Lutfatun Khasanah mahasiswa Hukum Keluarga Islam (HKI), selaku pemateri mengungkapkan acara ini dilakukan bertujuan untuk memberikan edukasi bagi warga Desa Penjor terkait kasus stunting dan cara pencegahannya.

“Sasaran acara ini adalah balita dan ibunya. Acara ini dilakukan untuk memberikan edukasi terkait kasus stunting di masyarakat, beberapa diantaranya terkait apa itu stunting, faktor penyebab, dan cara pencegahan.” kata dia.

“Diharapkan nantinya sosialisasi ini mampu menggugah pola pikir masyarakat bahwa stunting bukan disebabkan oleh keturunan, melainkan disebabkan oleh faktor pola makan, pola asuh, dan sanitasi. Selain itu memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa kasus stunting dapat dicegah, dimulai dari diri sendiri dan dukungan masyarakat.” tambah Yulya.

Upaya pencegahan memang perlu dilakukan melalui beberapa skala pencegahan, yakni gizi ibu, dukungan menyusui, dan dukungan masyarakat. Intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan, namun hanya berkontribusi 30 persen. Sedangkan 70 persen melibatkan sektor ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, sanitasi, ekonomi, pendidikan, sosial, dan sebagainya. (Chrisna/Zakia/Aam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
LP2M

IAIN Tulungagung

Saturday, Oct 23, 2021